Wednesday, June 16, 2010

Accident By SMS

Memang sudah menjadi sebuah takdir dan itu tidak bisa di rubah oleh siapapun juga. Aku menjadikan ini sebuah pelajaran berharga. Tapi aku menganggap ini sebuah karma. Karma yang pasti datang kepadaku. Karma yang menimpa diriku. Aku merasakan hal itu ketika aku akan medapatkan sebuah ujian dari Tuhan.

Dari segi mana pun aku tetap salah dalam kejadian ini. Tapi aku bersikap tenang seolah-olah ini kecelakaan murni. Awal mulanya aku mendapat SMS dari salah satu temanku. Itu sudah menjadi kebiasaanku kalau medapat SMS atau telpon pasti langsung aku jawab meskipun posisiku berada di atas kendaraan bermotor.

Aku melihat kendaraan bermotor yang ada di depanku masih jauh, kira-kira berjarak 20 meteran. Saat aku membaca SMS dari ponselku sekali-kali aku pandangi depan, masih dalam jarak aman. Sekali lagi aku mencoba untuk membacanya, tiba-tiba mobil pic up yang ada di depanku mengerem mendadak, karena ada mobil di depannya yang sedang belok ke kanan. Di tempat kejadian tersebut ada pertigaan lampu merah.

Kejadian sangat cepat aku tidak bisa mengendalikan motorku, tanpa terkendali motorku menabrak motor yang ada di depanku. Motor yang aku tabrak oleng kehilangan kendali dan akhirnya jatuh tergelincir ke tengah jalan beraspal. Begitu juga dengan diriku aku terjatuh dari atas motorku dan terpeleset ke tengah jalanan juga sambil menggenggam ponsel jadul yang aku mainin saat berkendara tadi. Dalam keadaan terjatuh aku merasakan seperti kejadian empat tahun silam, kecelakaan sampai berakibat gegar otak.

Syukurlah aku hanya mendapatkan luka lecet pada lutut dan mata kaki bagian kiri. Tapi beban materi yang aku tanggung sangat besar. Lumayan menguras separuh gajiku...(hikz...hikz...T_T). Harta masih bisa di cari tapi nyawa mau beli di mana? Aku selamat dalam kecelakaan tersebut sangat bersyukur meski posisiku salah.

Dengan kejadian ini aku di tunjukkan bahwa maut masih mengintaiku bila aku lengah dalam segala hal yang aku lakukan. Meski kadang aku tidak pernah ber SMS dalam berkendara, tapi pikiranku selalu tidak konsentrasi dalam berkendara. Otakku kosong entah apa yang aku pikirkan selama aku mengendarai motor. Jika bahaya sudah mengancam aku langsung tersadar dari lamunanku. Motor yang aku kendarai goyah seakan-akan aku tidak dalam keadaan berkendara.

Entah gejala apa yang terjadi dalam diriku ini. Aku selalu berusaha konsentrasi dalam berkendara. Tapi saat jiwa sudah melayang dalam angan, aku sudah tidak bisa mengendalikan lagi. Semoga aku bisa memperbaiki kesalahan ini. Apakah hidupku hanya untuk memikirkan sesuatu yang tidak jelas dan kurang pasti. Hanya diri kita yang bisa mengendalikan pikiran kita, menuntun diri kita sendiri kearah jalan yang benar. Amien...Ya Robbal Alamien.
Copyright © arqu3fiq 2008-2010

Tuesday, April 13, 2010

Berkunjung ke House of Sampoerna Surabaya

Minggu kemarin 11/4 aku jalan-jalan ke Musium House of Sampoerna.House of Sampoerna terletak di Surabaya, dengan bentuk bangunan megah gaya kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1862 dan sekarang menjadi situs bersejarah yang di lestarikan. Gedung House of Sampoerna sebelumnya digunakan sebagai panti asuhan yang dikelola oleh Belanda,itu dibeli pada tahun 1932 oleh Liem Seeng Tee, pendiri Sampoerna, dengan maksud gedung itu digunakan sebagai pabrik rokok dengan merk Sampoerna yang terbesar dan pertama di Indonesia.

Foto : Gedung utama House of Sampoerna tampak depan


Bangunan ini terdiri dari sebuah auditorium sentral besar, dua bangunan kecil di sisi barat dan timur. Struktur ruangan terbuka di belakang pusat auditorium. Bangunan-bangunan samping dikonversi menjadi seperti tempat tinggal keluarga dan gudang struktur yang paling besar digunakan untuk mengakomodasi fasilitas pengolahan tembakau dan cengkeh, pencampuran pencetakan, tangan-rolling dan kemasan, dan selesai pemrosesan barang.

Foto : Gedung utama tampak dari sebelah barat


Sampai hari ini, Gedung ini masih berfungsi sebagai produksi untuk rokok paling bergengsi di Indonesia, Dji Sam Soe. Di peringatan ulang tahun ke 90 Sampoerna di tahun 2003, kompleks pusat telah susah payah direnovasi dan sekarang terbuka untuk umum.

Foto : Gedung utama tampak dari sebelah Timur


Auditorium sentral asli sekarang menjadi museum dan timur sisi telah berubah menjadi sebuah struktur unik yang berisi sebuah café, kios merchandise dan galeri seni. Bangunan di sisi barat adalah kediaman resmi keluarga tetap.

Foto : Rumah kediaman resmi pendiri house of Sampoerna


House of Sampoerna di buka untuk umum. Bagi siapa saja yang ingin mengunjungi Musium House of Sampoerna tidak di pungut biaya alias gratis. Bila pengunjung lebih dari 25 orang terlebih dahulu mengkonfirmasi ke petugas House of Sampoerna terlebih dahulu agar berjalan dengan lancar.

Foto : Gedung kecil yang berada di sebelah barat kediaman resmi pendiri House of Sampoerna


Sampoerna dibangun dari hasil pondasi tembakau dan cengkeh. Perusahaan ini adalah salah satu bangunan tertua serta pertumbuhan tercepat dari produsen rokok kretek (tembakau dan cengkeh)rokok di Indonesia, juga pasar rokok terbesar ke-5 di dunia.

Foto : Bermacam-macam jenis cengkeh


Foto : Model warung dengan aneka macam rempah-rempah.



Didirikan pada tahun 1913, Sampoerna adalah rokok kretek pertama yang go publik di perusahaan Bursa Efek Jakarta. Ini telah berhasil melebarkan operasi perusahaan rokok regional serta diversifikasi dalam negeri di daerah distribusi dan transportasi, percetakan dan kemasan serta eceran dan grosir.

Foto : Mesin percetakan kuno yang di buat cetak bungkus rokok.


Museum menawarkan pengalaman yang benar-benar unik bagi pengunjung. Dari cerita tentang keluarga pendiri sampai melihat dari dekat tangan-roll nyata fasilitas produksi dan berakhir dengan pengalaman tak terlupakan melinting sebatang Dji Sam Soe rokok sendiri. Ya, Anda dapat bergabung dengan 3.500 wanita di pabrik ini, tangan-rolling rokok dengan alat tradisional. Mereka melakukannya dengan kecepatan lebih dari 325 batang rokok per jam.

Foto : Hiasan dari kaca berbentuk aquarium kecil.


Foto : Miniatur pesawat dalam lemari kaca.


Museum Shop menawarkan berbagai pilihan hadiah dan Ini termasuk item seperti miniatur rokok tradisional, rolling peralatan, paket cengkeh, buku, t-shirt bergambar dan Polos.

Foto : Keramik yang di simpan rapi dalam lemari.




Foto : Mobil antik yang di pajang di teras samping kediaman resmi.


Setiap tahun House of Sampoerna bangga menjadi beberapa host lokal maupun kelas internasional Mulai dari masyarakat yang sederhana berkumpul serangkaian budaya, pendidikan, rekreasi dan festives hiburan, acara ini memberikan pertunjukan yang unik dan menarik bagi pengunjung.

Untuk info lebih lengkapnya silahkan hubungi :

House of Sampoerna

Taman Sampoerna 6
Surabaya 60163
Indonesia

Tel. +62 31 353-9000
Fax. +62 31 353-9009

E-mail: hos.surabaya@sampoerna.com



Copyright © arqu3fiq 2008-2010

Thursday, April 8, 2010

Liburan ke Bali

Mendengar kantor mengadakan liburan ke Bali, hatiku senang bukan kepalang. Karena terakhir aku ke Bali jaman waktu kuliah dulu, itu pun demi mata kuliah SKI di mana di haruskan ke Bali untuk mengenal Kebudayaan Indonesia.

Berangkat dari kantor jam 6 pm, dengan mengendarai mobil travel jenis Travello. Sungguh perjalanan yang sangat melelahkan sekaligus menyenangkan. Perjalanan di habiskan semalaman di jalan, sampai di pelabuhan Ketapang jam 1 dini hari. Lalu menyebrang dengan kapal very menuju pelabuhan Gilimanuk Bali, tiba di hotel jam 6 pagi. Wuih....masih bau ketek mau cek in.

Sesampai di hotel kami tidak diperbolehkan cek in karena peraturannya cek in jam 12 siang.
"OMG masak kita harus jadi gelandangan gembel bau iler gini sampe jam 12 siang?"
Tapi untung seminggu sebelum kita berangkat ke Bali, kita sudah konfirmasi kalau tiba di hotel sebelum cek in kita diperbolehkan memakai kamar sementara untuk mandi dan ganti pakaian.


Pelabuhan Ketapang Banyuwangi

Suasana di hotel bersama rekan kantor

Akhirnya selesai sudah bersih-bersih yang numpang di hotel, saatnya cabut untuk pergi sarapan sambil menunggu jam cek in. Kami sepakat pergi ke pantai Kuta untuk mencari sarapan sambil melihat-lihat pemandangan pagi hari.

Menghirup udara segar pagi hari di pantai Kuta


Di Taman Ayun


Copyright © arqu3fiq 2010

Thursday, March 18, 2010

Bali I'm Comming

Tahukah kawan, kalau kita bersabar pasti menuai hasil. Keberuntungan yang bersemayam dalam diriku tak ubahnya musim durian yang siap panen. Janji-janji yang diucapkan dulu kini akan terrealisasi. Liburan bersama orang-orang kantor yang telah dijadwalkan dulu kini terlaksana juga.

Seperti punguk merindukan bulan. Aku menunggu janji yang di ucapkan "nya". Tak lepas dari pendengaranku, pembicraan tentang liburan aku tangkap dengan jernih sampai ke telingaku. Bukan aku saja ternyata yang menyimak ceramah tadi, tapi teman-teman kantor lainnya juga.

Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Tahun juga sudah berganti menjadi tahun 2010. Jadi sudah satu tahun Janji itu terabaikan. Memang sih semua pada sibuk, tapi kalau rencana yang hanya di susun dalam mulut saja, hanya berlalu begitu saja tanpa berlabuh menjadi kenyataan. I don't know, what must I do to realize that dream.

Setelah mencari tahu informasi tentang liburan, akhirnya diputuskan untuk liburan ke Bali. Segala perlengkapan sudah disusun matang. Mulai dari laporan keuangan, sampai jumlah anggota yang ikut.

Mendengar kalau liburan ke Bali aku seperti bermimpi, karena sudah lama aku ingin ke Bali dan tahun ini jadi liburan ke bali. "Sungguh memalukan ke Bali cuman satu kali." Emang sich ke Bali dulu cuman PKL di kampusku dulu. Tapi itu semua tidak merasa seperti liburan, justru seperti suatu keharusan yang harus di tempuh sebagai syarat mata kuliah SKI dalam jurusan Sastra Jepang.

Tidak ada kata terlambat bagiku untuk memanjakan hati yang suka jalan-jalan. Bali adalah tempat yang tepat untuk memanjakan mata. Selama liburan kantor aku enjoy menikmatinya. Terlepas beban pikiran yang mencekam di balik tembok kantor. Semoga dilain waktu ada kesempatan lagi untuk berlibur ke Bali. I Miss U....!!!


Copyright © arqu3fiq 2008-2010

Sunday, January 24, 2010

Khayalan itu Muncul Lagi

Sakit yang tak tertahankan seperti di bor oleh mesin pembongkar jalanan beraspal rusak sudah mulai berkurang. Seperti sudah kehabisan tenaga untuk mengebor gigiku yang sudah mulai usur. Berbagai obat telah lulus sensor aku tenggak. Dari yang dosis rendah sampai dosis tinggi lumat di gerus oleh lambungku. Sampai-sampai aku tidak percaya pada apoteker yang mukanya tidak menandakan dia seperti seorang apoteker. Aku gamang menelan obat sakit gigi itu, sehingga aku memastikan dengan menanyakan temanku yang bekerja di salah satu Rumah Sakit Swasta di Surabaya, apakah benar atau salah obat yang aku minum itu. Tahukah sobat, semua obat sakit gigi itu sama semua mengandung mefenamat acid seperti obat ponstan yang kebanyakan orang beli, sampai obat termahal bernama cataflam, sungguh cantik namanya seampuh khasiatnya.

Khayalanku seminggu yang lalu muncul lagi di benakku. Suara deburan ombak terasa mengusik telingaku. Liukan air laut terpampang jelas dimataku menggoda-goda aku untuk menceburkan diri ke laut. Kakiku serasa menjekakkan di pasirnya yang berkilauan laksana berlian. Sepertinya aku harus menghapus semua khayalan tentang liburan yang sudah membuat aku stres. Hilang... Melayang begitu saja tanpa bekas.

Tepatnya hari minggu. Bayang-bayang itu muncul lagi. Tapi kali ini bukan sesosok pantai yang ada dalam pikiranku. Sobat, apakah ini yang dinamakan penyakit orang yang sudah disibukkan dengan urusan duniawi. Sehingga ingin rasanya terbebas dari deru mesin printer yang terus menelan berlembar-lembar kertas, atau bunyi mesin fax yang membuat aku jantungan karena letaknya persis berada di sampingku. Hasrat yang meletup-letup yang harus disanggupi janji-janjinya. Bayangan itu muncul dalam wujud pegunungan. Pegunungan dengan keindahan air terjun yang sangat indah. Tahukah sobat, kemana aku harus melangkah. Aku tidak harus pergi jauh-jauh untuk memenuhi ambisiku itu, cukup di kota Jombang saja, kota yang sangat kecil ini, di Wonosalam lah sebuah air terjun bertengger megah di gunung anjasmoro di desa pengajaran.

Dalama hitungan jam aku sudah berada di desa Wonosalam. Tanpa menghiraukan sakit gigiku yang baru sembuh aku menjelajah hutan Wonosalam. Melangkahkan kakiku di jalan setapak, berliku, naik, turun bahkan harus memanjat bebatuan yang tidak kecil bentuknya. Tahukah sobat, untuk ke lokasi air terjun itu harus menempuh jalan setapak sejauh 3 Km. Bayangkan itu, medannya tidak semulus yang sobat bayangkan, kadang-kadang jalan setapak itu terputus oleh sungai yang mengalir dari arah air terjun dan aku harus rela nyemplung ke air yang sangat dingin untuk melintasinya. Sungguh, petualangan sebenarnya yang aku cari selama ini.

Tanpa persiapan, tanpa bekal, bahkan tanpa air minum pun. karena semua itu langsung terlintas dibenakku begitu saja. Hari sudah sore, tapi aku juga belum sampai di lokasi air terjun. Aku kelelahan. Sewaktu berpapasan dengan pengunjung yang lainya, aku mencoba bertanya.
"masih jauh ya air terjunya?"
"masih mas, kurang separuh jalan lagi."
Pandangan mataku nanar, tubuhku goyah seakan ingin roboh dari kedua kakiku yang menyangganya. Persendian kakiku seakan mau copot, ingin lepas meloncat dari daging yang membungkus kakiku. Aku mencoba beristirahat sebentar, mencoba menghirup udara segar, udara bersih tanpa pencemaran. Demi air terjun itu aku masih sanggup untuk melangkah sejauh ini. Perasaanku, dulu, terakhir kalinya aku ke sini sewaktu SMA, jarak untuk menuju lokasi air terjun tidak sejauh ini. Ternyata sudah mengalami evolusi yang sangat sempurna dan alami. Karena aku melihat banyak pohon tumbang sampai tergerus habis di makan usia, sehingga menghalangi jalan setapak tersebut. Karena sering dilewati oleh anak muda-mudi yang berjiwa petualang, sehingga terbentuklah jalan setapak baru, yang menurutku tambah lebih jauh saja. Aku memutuskan untuk kembali pulang tanpa hasil, karena hari sudah mulai gelap, siang tergantikan oleh malam, sunyi senyap di hutan yang sangat rimbun. Tanpa penerangan di dalam hutan yang gelap pekat sama saja menyerahkan nyawaku secara cuma-cuma.

Mungkin untuk saat ini aku belum berhasil menakhlukkan rintangan untuk menuju air terjun cantik itu. Suatu saat pasti aku takhlukkan engkau. Kan kupersiapkan segalanya demi engkau. Kini aku sendiri dalam lamunanku. Aku merasakan hawa keberuntungan segera merasukiku. Entah apa itu aku juga masih belum tahu. Tapi aku merasakannya dengan jelas. Semoga itu tampak nyata dan terwujud dengan pasti. Dimensi apa lagi ini yang terjadi dalam diriku. Ini seperti sebuah paradoks bagiku. Benar sobat, aku merasakanya itu. Aku tidak bohong.

Copyright © arqu3fiq 2008-2010