
Bersama Ken Takemoto
B
ahasa, sebagai gejala dan kekayaan sosial tidak akan pernah berhenti sejalan dengan perkembangan pemakainya. Pemikiran manusia dan tingkah laku manusia ditandai satu gejala alami yaitu perubahan. Perubahan adalah ciri pembeda dari umat manusia. Perubahan tingkah laku bahasa terjadi pada setiap ruang dan waktu dari satu suasana ke suasana lainnya. Bahasa tidak pernah hadir dalam kehampaan, ia selalu diwarnai dengan perubahan-perubahan sosial. Bahasa senantiasa sejalan dengan perkembangan sosial pemakainya.
Tampilan setting pada Blackberry
Bahasa sebagai alat berfikir dan berkomunikasi selalu berubah bentuk terus-menerus seiring dengan perkembangan waktu. Bahasa selalu berubah-ubah dan tidak bisa kita hindari. Perubahan pada bahasa bisa terjadi pada kosakata, susunan kalimat ataupun maknanya. Perubahan ini akibat dari penemuan-penemuan baru dalam perkembangan bahasa, yang menuntut adanya pengistilahan baru dalam menggambarkan makna yang tepat.

Menu pada Blackberry
Begitu pula bahasa yang di gunakan pada peralatan elektronik mempunyai ciri dan arti sendiri-sendiri. Sering kali kita menemui kejadian lazim yang terjadi pada pengguna gadget yang menggunakan bahasa Indonesia. Maaf, meski saya orang Indonesia bukan maksud saya tidak mencintai bahasa Indonesia, tapi kalau bahasa pada gadget berubah agak aneh dan kita akan sulit memahami maksud dari perintah yang di sebutkan oleh gadget tersebut. karena kejadian ini sering saya alami suatu ketika sanak saudara atau teman bertanya apa yang harus di lakuakn bila pengguna sudah menemui jalan buntu tidak mengerti apa yang akan di lakuakan terhadap benda yang berpengaruh besar pada manusia di era sekarang. Karena gadget tersebut sudah tidak menggunakan bahasa default atau English.

Menu start dalam bahasa Jepang
Contoh kejadian simple saja, teman di BBM bertanya, "ini caranya gimana supaya DPku jadi keliahatan penuh?" Sepontan aku jawab, "coba kamu zoom out sampai terlihat penuh." dari seberang plonga-plongo alias Oneng. "pilihannya yang mana?". Oh...no...Langsung telan BB saya.

Malah kasus yang ini sering saya temui di kantor. Dimana salah satu laptop kantor pemberian dari Ken Takemoto orang Jepang. Sehingga otomatis laptop itu isi perintahnya bahasa Jepang semua. Memang sih tidak terlalu sulit bagi kami sebagai orang yang bekerja di bidang bahasa Jepang untuk memahami maksud perintah tersebut. Tapi pasti menemui kendala teknis dalam prakteknya.

Suatu ketika si BOZ minta bantuan pada saya, "ini bagaimana caranya?" kemudian saya berfikir, secara ya si BOZ itu seorang Profesor dalam bidangnya. Dan pernah tinggal di Jepang puluhan tahun jadi perintah yang muncul di komputer berbahasa Jepang sudah barang tentu dibabatnya habis. Bukan hanya laptop tapi BB nya juga berbahasa Jepang. Kalau ada trouble pasti menggegerkan semua orang yang ada di kantor.

Kenyataanya dalam praktek, setelah dibaca berulang-ulang masih belum ngerti maksud perintah tersebut. Kadang saya sampai mengeluh, kenapa sih harus menggunakan bahasa Jepang di saat darurat seperti ini. Ketika saya di perintah untuk membetulkan sesuatu yang berhubungan dengan gadgetnya, entah iPad, laptop atau BBnya. Saya selalu bilang "Nihongo de! (bahasa jepang lagi)" langsung si BOZ nyletuk, "Nihongo o benkyousuru desu yo? (kamu kan belajar bahasa Jepang?)". Saya jawab tidak kalah garangnya, "Iya pak, tapi sekarang kan bukan saatnya kuliah bahasa Jepang, tapi sekarang dalam keadaan darurat." Sebel gue. Soalnya pasti rumit dan harus buka kamus atau menerka-nerka apa masudnya ini.

Pernah sih laptopku aku rubah menjadi bahas Jepang, sehingga perintah start sampai ke control panel pun berubah menjadi bahasa Jepang. Pikir saya dengan begini saya juga bisa mempelajari perintah dalam bahasa Jepang. Tapi apa saat laptopku trouble dan muncul perintah-perintah yang harus di jalankan supa ya laptop kembali normal. Saya langsung shock, apa yang harus aku lakukan? apakah harus buka kamus terus saat trouble begini. Oh No....Enough! Akhirnya aku rubah kembali ke bahasa default.

Mungkin kasus seperti ini bukan pada tempatnya kalau aku mengartikannya. Karena apa? karena pada saat kita kesulitan dalam perintah-perintah bahasa Jepang kita tidak langsung memahaminya dengan jelas. Masih meraba-raba apa yang dimaksudkan. Sehingga lebih baik menggunakan bahasa defaul saja terkecuali kalau penggunaya memang asli orang Jepang.

Cinta tanpa syarat. Itulah yang terjadi di antara Barfi (Ranbir Kapoor) dan Jhilmil (Priyanka Chopra). Barfi terlahir tuli dan bisu sedangkan Jhilmil terlahir Autis. Pertemanan mereka semenjak kecil menyatukan sampai akhir hayat.
Kehidupan berlalu tahun demi tahun berganti. Tapi Shruti tidak menemukan kebahagiaan bersama suaminya. Dia malah lebih nyaman bersama Barfi. Tapi mengetahui kalau Barfi bersama Jhilmil hidup bersama karena suatu permasalahan yang rumit dimana Jhilmil sedang di culik dan Barfi lah yang menyelamatkan dari penculikan tersebut.
Melihat kejadian itu Shruti sangat sedih sekali karena tidak bisa merebut hati Barfi. Mungkin inilah yang di namakan Cinta tanpa Syarat bahwa untuk mencintai seseorang itu tanpa memandang kekurangan yang dimilikinya. Sampai pada suatu hari dimana ajal telah menjemput. Barfi meninggal bersama Jhilmil di pelukannya. Melihat kejadian itu Shruti menangis sejadi-jadinya. Bahagia karena Barfi telah pergi bersama orang yang di cintainya yaitu Jhilmil.



Sampai sekarang saya masih suka dengan telur. Sampai-sampai di meja kerjaku ada telur puyuh yang kebetulan aku beli pas lewat di depan warung. Nggak tahu ya kenapa aku suka banget sama telur. Beli satu bungkus kurang saya beli tiga bungkus sekaligus yang isinya satu bungkus ada lima.