Wednesday, November 12, 2014

Kawah Ijen (Part 1)

Keindahan Kawah Ijen dengan air yang berwarna hijau toska.

Berawal dari kalender tangggal merah. Tanggal 25-26 Oktober. Sebulan sebelumnya aku mulai giat seraching Kawah Ijen di mbah Google. Berbekal informasi dari internet aku kumpulkan data selengkap mungkin untuk bekal berpetualang tanggal 25 Oktober. Awalanya saya berencana pergi sendiri, tapi teman kerja saya Erwin mengetahui kalau saya sedang serching “Kawah Ijen”. Kemudian dia ingin ikut karena tanggal 25-26 dia sedang tidak ada acara kemana-mana. Oke jadi dua orang yang berangkat.

Tiga minggu sebelumnya Erwin bilang kepadaku kalau temannya, Nina mau ikut. Karena Erwin sebelumnya bercerita kepada Nina kalau dirinya mau ikut aku ke Kawah Ijen. Meski aku tidak kenal dan belum bertemu Nina. Aku iyakan aja karena lebih bagus nambah teman biar rame perjalanannya.

Bule satunya gak mau narsis.

Selang seminggu kemudian Erwin bilang kepadaku lagi kalau Nina bawa teman bule dan mau ikut juga ke Kawah Ijen. Lagi-lagi aku iyakan aja, karena perjalanan akan jadi lebih menyenangkan dan juga biaya jadi lebih ringan. Besoknya erwin bilang lagi, kalau bulenya yang ikut itu ternyata ada dua orang. Baguslah akhirnya jadi pas lima orang petualang akan memulai debutnya untuk mendaki Gunung Ijen yang mempunyai ketinggian 2.386 mdpl.

Aku teringat kalau aku memiliki teman blogger bernama Rezky yang domisilinya di Bondowoso. Beruntung juga dia sudah berteman di Facebook sudah lama. Anehnya kita juga jarang komunikasi karena tenggelam dalam kesibukannya sendiri-sendiri. Aku mencoba menghubungi via Facebook, menayakan tentang keadaan sekitar Bondowoso dari mulai public transport sampai akses menuju Kawah Ijen. Lalu aku di kasih nomor seorang travel yang kesehariannya mengantar para turis asing ke Kawah Ijen. Aku sangat berterima kasih atas bantuan yang telah di berikan teman blogger dari Bondowoso ini.

Di depan warung Bu Im di Paltuding Kawah Ijen.

Aku merasa di titik aman karena sudah mengantongi nomor seorang travel, yang akhirnya aku ketahui belakangan nama sebenarnya adalah Drs. H. Surdjana setelah di berikan kartu namanya. Karena dari semula si Rezky ngasih tahu kalau namanya Pak Surya. Jadi aku selalu manggil-manggil Pak Surya. Emang panggilanya Surya karena namanya ditulis menggunakan ejaan lama.

Seminggu sebelum keberangkatan saya mencoba menghubungi Pak Surya, menanyakan berapa biaya dari Bondowoso sampai ke Paltuding. Mungkin bagi yang belum pernah ke Kawah Ijen belum tahu apa itu Paltuding. Paltuding adalah nama sebuah Desa di mana desa Paltuding adalah Pos pintu masuk menuju pendakian Gunung Ijen. Setelah mengetahui harga yang telah di berikan oleh pak Surya aku belum langsung “deal”, aku janjikan akan saya kabari secepatnya setelah mendapat keputusan bersama.

Di terminal Bondowoso

Setelah kita sepakat dengan harga yang di tentukan oleh Pak Surya. Tepat hari Sabtu pagi kami berkumpul di Terminal Bungurasih Surabaya jam 10:00 WIB. Saya berangkat dari rumah bersama Erwin karena kost Erwin melewati rumahku jadi aku numpang sama Erwin karena mengingat hari libur panjang jadi pasti parkiran penuh. Dan ternyata benar parkiran penuh kita mau parkir di tolak karena sudah full. Akhirnya saya kembali ke parkir langganan saya. Seorang penjaga parkir bilang kalau sudah full, tapi Bapak yang punya parkiran langsung ingat saya dan bilang kalau saya adalah pelanggan parkirnya. Yup benar sekali, karena saya kalau lagi malas bawa motor untuk mudik selalu aku parkir di sini kemudian naik bus untuk mudik ke Desa. Syukurlah dapat tempat parkir meski motor nya di taruh di luar.

Di Terminal kita sudah di tunggu oleh Nina dan kedua bule tersebut. Meskipun Nina temannya Erwin tapi Erwin tidak kenal sama sekali dengan kedua bule teman Nina tersebut. Akhirnya kita sama-sama bersalaman dan memperkenalkan diri masing-masing.

Artur Bałazy pemuda dari Polandia sebagai pengajar Bahasa Inggris di Medan. Sedangkan satunya Michel Tanguay dari Quebec Canada sebagai Dosen Bahasa Inggris di Raffles Institute Surabaya. Mereka sedang menunggu di warung masakan Padang. Saat kita tiba si Artur sedang makan nasi Padang yang pedas. Katanya dia suka makanan pedas.

Terminal Bungurasih Surabaya yang sudah mulai bagus.

Jam sudah menunjukkan pukul 10:00 WIB. Kami langsung menuju bus yang akan membawa kami ke Bondowoso selama 6 jam. Ternyata Nina bisa di andalkan meski tidak di suruh dia mencari-cari jadwal keberangkatan bus patas yang menuju Bondowoso. Setelah mereka selesai makan kami bergegas menuju jalur bus yang menuju Bondowoso. Seperti biasa kami di tanyai para kernet bus apalagi kami membawa dua orang turis jadi semua mata tertuju pada kami.

Akhirnya dapat juga bus Patas Bondowoso. Tepat pukul 10:30 bus patas melaju menuju Bondowoso. Tapi apa daya jalur menuju pasuruan harus melewati jalur arteri yang sangat macet di karenakan bertepatan dengan libur panjang jadi jalanan sangat ramai sekali. Tol yang menghubungkan Surabaya-Malang belum selesai dalam pembangunannya.

Melewati PAITON Pembangkit Listrik Jawa-Bali

Bagiku berlama-lama dalam bus sangat membosankan. Selama 6 jam duduk dalam bus membuat kaki ku kram. Aku tidak bisa tidur meski mencoba memejamkan mata. Mungkin gara-gara si Nina yang ceria ngobrol terus sama si bule. Kadang aku ikut menjawab pertanyaan atau sedikit penasaran dan bertanya, karena mau ngak mau telingaku mendengar mereka berdua asik ngobrol. Jadi tidak bisa konsentrasi untuk tidur. Sedangkan si Artur malah tertidur lelap dengan batal dan sarung yang dia bawa. Kenapa aku tidak bisa tidur? Kepalaku semakin pusing.

Setelah bertahan selama 6,5 jam akhirnya sampai juga di terminal Bondowoso. Jam sudah menunjukkan pukul 16:00 WIB dan kami belum makan siang. Untung di dekat terminal ada beberapa warung yang masih buka. Jangan membayangkan terminalnya rame kayak di Bungurasih Surabaya. Sore itu nyaris tidak ada satu pun jenis kendaraan di dalam terminal. Kami sepakat ingin makan nasi rawon sebelumnya sudah di bahas dalam bus kalau nanti kita turun enaknya makan apa. Pertama yang di tanya si bule nya dulu, apakah doyan sama makanan hitam pekat seperti itu. Alamak...ternyata dia suka, pantas saja sudah hampir setahun sih di Indonesia. Akhirnya warung tujuan kami yang ada menu nasi rawon. But what! Setiba di warung para bule berubah pikiran setelah melihat daftar menu yang banyak sekali. Mereka akhirnya berganti menu lebih memilih ayam sedangkan aku tetep pada pendirianku selama dalam bus membayangkan nasi rawon yang hangat dan nikmat.

Jalan kaki menuju hotel SLAMET

Waktu sudah menunjukkan pukul 17:00 WIB di luar sudah agak gelap, badan rasanya lengeket dan kami semua ingin segera menyentuh dinginnya air agar bisa membersihkan badan yang rasanya seperti ikan di pasar. Setelah mendapat rekomendasi hotel murah dari ibu yang punya warung tadi. Kami semua berjalan menyusuri kota Bondowoso sore itu. Hotel “SLAMET” ada di dekat alun-alun. Jarak antara terminal ke alun-alun kurang lebih 1 KM. Dengan membawa ransel yang ada di punggung, kami berjalan terseok-seok karena capek. Belum lagi di lihatin sama penduduk lokal karena kita berlima berjalan sambil bercanda rame sekali. Para abang becak saling menawarkan kendaraanya tapi kami lebih memilih berjalan kaki saja.

Murah bingit, cuman buat numpang mandi aja.

Akhirnya ketemu juga hotelnya dengan bertanya kesana kemari. Bener juga hotelnya sangat murah sekali. Aku saja sempat kaget betapa murahnya. Tujuan kita sewa hotel hanya untuk mandi dan istirahat merebahkan badan sejenak. Karena nanti malam jam 23:00 WIB kami sudah meluncur ke Paltuding Kawah Ijen. Tapi apa yang terjadi? Niatnya habis mandi aku langsung tidur sambil set alaram jam 23:00 WIB supaya bisa bangun, tapi yang ada aku tidak bisa tidur. Hanya aku dan Erwin yang tidak bisa tidur, lainnya sudah tenggelam ke dalam mimpi masing-masing, yang mungkin sedang mimpi berada di Kawah Ijen. Aku dan Erwin keluar hotel mencari udara segar sambil membeli makanan cemilan dan minuman di alun-alun. Jarak hotel dengan alun-alun sangat dekat sekali, sekitar 5 menit jalan kaki. Kebetulan hari itu sabtu malam minggu jadi sangat ramai sekali di alun-alun bertepatan dengan acara malam satu suro Pemkab Bondowoso. Jam sudah menunjukkan pukul 21:00 WIB tinggal dua jam lagi Pak Surya menjemput kami di hotel. Perasaanku tidak menentu diselingi hawa dingin kota Bondowoso. Untuk mencoba tidur lagi tidak mungkin karena rasa kantuk ku sudah tidak ada. Aku sendiri menunggu di lobi hotel sambil menatap jalanan di luar yang masih rame oleh penduduk lokal yang baru pulang dari melihat acara Malam Satu Suro di alun-alun. Aku menghabiskan waktu sendirian dengan pikiran kosong.

5 comments:

  1. bahahahahaha, saya tahu persis deh rasanya duduk lama-lama dalam bus. Kalau dulu dari Hatyai ke KL 10 jam perjalanan bus ga berasa karena tidur malam. Tapi pas di Jayapura, naik bus ke pedalaman bolak-bolak 8 jam. Beuh, rasanya kayak mau gila. Udah jalannya jelek, bus krepok ga ada AC. Mantap lah!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha....segitunya sampai rasanya mau gila mas.

      Delete
  2. Suka banget ama ijen, meskipun menggigil disana :-(

    ReplyDelete
  3. boleh minta nomor kontak Drs. H. Surdjana/ pak surya nya ?

    aku ada rencana mau backpacker ke ijen.

    thank you before

    ReplyDelete
    Replies
    1. 0812-4930-3482 Semoga masih aktif nomornya. Maaf terlambat jawabnya.

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...