Tuesday, March 20, 2012

Yayoi / Maret





Hishi Mochi
Tiga kue beras, masing-masing mempunyai warna berlainan, digiling sampai tipis, kemudian dipotong menjadi bentuk berlian, dan diletakkan berlapis-lapis. Umumnya disajikan pada saat acara festival Hina Matsuri[1]. Hampir sama bentuknya dengan kue lapis di Indonesia.
弥生
Yayoi






Teknik foto menggunakan metode pencahayaan yang dikendalikan waktu atau yang biasa dikenal kecepatan rendah (slow speed), sehingga nampak bunga api berkobar-kobar seperti membakar Kuil tersebut
Tanggal 12
Upacara O-mizu tori di Aula Nigatsu-do, Kuil Todai-ji, Nara
Peristiwa penting dalam kalender Budha ini diadakan pada salah satu kuil paling terkenal di Jepang selama dua minggu, dimulai pada tanggal 1 Maret. Klimaksnya adalah pada tanggal 12, jauh dimalam hari. Obor taimatsu yang sangat besar berkobar-kobar dibawa dengan cepat di sepanjang beranda panjang yang mengelilingi Aula Nigatsu-do. Bunga api bertebaran pada kerumunan orang yang ada di bawahnya. Upacara lainnya yang jauh lebih serius, diadakan pada saat yang hampir bersamaan yaitu para pendeta mengambil air dari sebuah sumur dilingkungan kuil, dan mempersembahkannya kepada patung Kannon.


Tanggal 3 Maret
Hina Matsuri[1]
(Festival Boneka)
Anak-anak perempuan menempatkan boneka yang mengenakan rok tradisional resmi, untuk menghiasi bagian rumah dan mengungkapkan permintaan untuk kesehatan dan kebahagiaan.

Tanggal 3 dan 4
Pameran boneka daruma[2]
Di Kuil Jindai-ji, Chofu, propinsi Tokyo, Boneka daruma adalah jimat pengabul keinginan yang mewakili Bodhidharma, pendeta India yang mendirikan Aliran Budhis Zen di Cina sekitar abad ke-5. Boneka ini dijual dengan lingkaran putih yang besar untuk matanya. Sudah menjadi kebiasaan untuk mengecat sebuah mata (hitam) dan membuat permintaan. Kalau permintaan tersebut terpenuhi, mata yang sebelah dicat. Di pameran, banyak boneka tanpa mata berbaris untuk dijual.

Tanggal 5
Keichitsu[3]
Ini adalah salah satu nijushi sekki (24 titik musim dalam kalender matahari Cina). Keichhitsu adalah hari di mana musim semi terasa cukup hangat untuk para serangga keluar dari tidur di musim dingin dan naik ke permukaan tanah. Kata ini digunakan dalam puisi haiku sebagai sebuah istilah dengan konotasi musiman.

Tanggal 13
Festival Kasuga, di Kuil Kasuga, Nara
Festival O-ta-ue, di Kuil Kirishima di Kirishima-cho, Propinsi Kagoshima.

Tanggal 18 sampai 24 (kira-kira)
Haru no Higan
Perayaan untuk merayakan panjangnya siang dan malam yang sama di musim semi.

Tanggal 21 (kira-kira)
Shumbun no Hi (Titik balik Matahari di Musim Semi)
Pada saat titik balik matahari di musim semi, siang dan malam kurang lebih lamanya sama. Setelah itu, siang hari lebih panjang dari pada malam hari, dan matahari mengusir udara dingin. Hari ini adalah hari untuk menghormati alam dan menunjukkan hubungan dengan dunia alami. Pada hari ini telah di tetapkan menjadi hari libur nasional pada tahun 1948.Tanggal 22
Hoso Kinen-bi (hari siaran)


Antara tanggal 1 dan 25 (kira-kira)
Upacara Wisuda (Sotsugyo-shiki)
Di Jepang tahun ajaran dimulai bulan April, dan bulan Maret adalah waktu untuk upacara wisuda. Lulus dari universitas menandakan akhir dari tahun-tahun sekolah yang dimulai dari tingkat pertama, dan menandakan saat para pemuda-pemudi memasuki dunia pekerjaan. Akhir-akhir ini, beberapa wisudawati mengenakan pakaian kimono dengan hakama yang menutupi bagian bawah badan, meniru gaya pelajar wanita pada awal tahun 1900-an

Tanggal 27
Festival O-Kichi, di Shimoda, Propinsi Shizuoka.
Sekitar tahun 1860, Townsend Harris adalah diplomat pertama yang mewakili Amerika Serikat di Jepang. Di bawah pemerintah hakim di Shimoda, seorang anak perempuan berusia 17 tahun yang bernama O-Kichi[4] menjadi pembantu Townsend. Festival ini diadakan pada peringatan hari kematiannya, dan mengungkapkan permintaan untuk kebahagiaannya di dunia berikutny. Dalam festival ini ada tari-tarian yang ditampilkan oleh banyak geisha, dan pasar yang menjual tanaman pot dan pohon.

Tanggal 28
Rikyuki
Hari ini untuk memperingati Sen no Rikyu[5], seorang ahli teh terkenal yang dipaksa untuk melakukan seppuku[6] pada tahun 1591. Upacara minum teh diadakan setiap tahun di kuil Daitoku-ji, Kyoto, dan lokasi-lokasi lainnya. Beberapa sekolah malahan merayakan peringatan ini pada tanggal 27.

References :


[1]. Hina Matsuri. http://www.jinjahoncho.or.jp/
[2]. http://ja.wikipedia.org/wiki/だるま
[3]. http://ja.wikipedia.org/wiki/啓蟄
[4]. http://ja.wikipedia.org/wiki/斎藤きち
[5]. http://ja.wikipedia.org/wiki/千利休
[6]. Seppuku adalah bunuh diri dengan membelah perutnya sendiri. http://ja.wikipedia.org/wiki/切腹
― http://web-japan.org/nipponia/nipponia34/en/index.html


29 comments:

  1. kayaknya suka banget sama kebudayaan jepang .
    heheheee...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kawan saya suka kebudayaan Jepang. Tapi tetap mencintai kebudayaan Indonesia.

      Delete
    2. Owh, keren donk, pantesan . heheee...
      artikel ku yang i love indonesia udah update lagi .
      permintaan yang i love indonsia nya di "Gerakin udah bisa" .
      :D

      Delete
  2. jangan2 kue lapis emang terinspirasi dari hishi moci lagi... soalnya bentuknya miriip.... :D

    ReplyDelete
  3. itu kue berasnya lengket kaya kue lapis Indonesia ga yah ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin juga ya. Saya belum pernah memakannya. Hehehe...Terima kasih kawan.

      Delete
  4. pengen banget nonton upacara adat jepang kayak gini...ngomong-ngomong cara baca postingan ini dari mana kemana (maaf...soalnya saya loncat sana -sini bacanya T_T)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bebas bacanya, suka-suka asal tidak mengeluh dan pusing aja. Mohon maaf dan terima kasih kawan.

      Delete
  5. negeri yang berhasil menanamkan culture & local wisdom menjadi semangat kemajuan dan berdiri terdepan di antara bangsa-bangsa.

    suatu saat, bangsa kita akan menyusulnya... :)

    ReplyDelete
  6. wow tradisi yang unik dan terus dilestarikan ya sob. waau orangnya sudah moderen

    NB.. ijin di review ulang sob.. biar di baca pembaca yang lain, thank.. tlng konfirmasinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. yupz. thank posting sudah muncul dengan tajuk acara adat jepang di bulan maret.. thank berat n salam wisata

      Delete
    2. Wah...hebat cepet bener ya postingnya. Terima kasih sobat bisa bermanfaat.

      Delete
  7. Wahh.. andai kata di Indonesia ada acara budaya yg berkelanjutan yg seperti ini, khususnya di Jombang pasti seru ya mas.. :D

    ReplyDelete
  8. di Makassar juga baru aja diadakan festival kebudayaan jepang :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah...bagus tuh, pasti UNHAS ya yang ngadakan?

      Delete
  9. hmmm...
    budaya jepang terlestari..
    pengen hal yg sama ada di indonesia..
    :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo lestarikan, siapa lagi kalau bukan kita-kita generasi muda. (gue udah tua kok)

      Delete
  10. Konnichiwa!
    gara-gara komik+anime, Aul lumayan paham soal boneka daruma dan boneka hina..

    Keren yaa, di jepang setiap peringatan2 tertentu dihargai, dan selalu dijaga biar ttp dilaksanakan. di ino kayaknya udah mulai pudar deh tu, rasa menghargai dan keinginan memperingati tanggal-tanggal tertentu.

    P.S.
    Hishi Mochi itu hubungannya sama maret apanya bang?
    sejarah lahirnya apa festival bikin kue nya apa gimana?
    ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Konichiwa.
      Itulah gunanya membaca, sehingga jadi tahu kebudayaan Jepang melalui komik.

      Hishi Mochi itu kue yang di sajikan pada acara festival Hina Matsuri. Kan sudah di jelaskan di sana.

      Delete
  11. tiap-tiap negara punya budaya unik masing2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup betul kawan. Makanya itu tiap Negara punya ciri khas masing-masing. Terima kasih ya.

      Delete
  12. pengen deh di Indonesia ada peringatan-peringatan adat gitu, makin hari kok budaya kita semakin tenggelam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya kalau Malam Jum'at di THR Surabaya ada pementasan ludruk kamu kan anak Surabaya juga. Coba sekali-kali lihat di sana. Terima kasih.

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...